Sabtu, 01 Mei 2010

Indahnya…..


Impianku Tentang Semarang

Aku adalah seorang yang realistic yang suka bermimpi tentang sesuatu yang aku cintai, seperti kota kelahiranku, Semarang. Entah kenapa saat ini gema kerinduan berdentum demikian kencang kesetiap sudut hati, hingga ku tak lagi sanggup menahan.

Semarang, dalam ingatan selalu terbanyang betapa nikmatnya segala macam makanan tradisional yang sangat mengugah selera. Jagung Bakar Pak Min di depan RS Tlogo Rejo, Bakso Pak Geger di Mintojiwo, Bakso Wardi dengan isonya yang mantap di depan RS Tlogo Rejo, Tahu Petis Prasojo di Simpang Lima, Soto Bangkong, dan Pecel Semangi di Pasar Gang Baru, belum lagi Pia Sambel SMA Negeri 1 Semarang yang memorable….ah semua seolah melambaikan tangannya kepadaku dan berkata “Pulanglah segera….”

Begitulah, hingga terkadang jika letih raga telah membebani sukma, aku segera menelpon ke salah satu maskapai langgananku….Yuppp….akhirnya dengan segera aku mendarat di Bandara Ahmad Yani dengan gejolak rindu yang masih tetap sama, meski rutinitas itu telah kerap kujalani….

Indahnya…..

Keindahan kota Semarang adalah satu alasan lagi mengapa aku begitu mencintai kota kelahiranku ini. Keindahan tatkala malam menjemput sang bulan…..gemerlap lampu-lampu berpijar laksana pendar-perdar berlian yang berkilauan demikian sempurna tatkala pesawat yang kutumpangi berputar di atasnya adalah salah satu pemandangan yang selalu mempesonaku tak peduli berapa kali aku telah mengarungi perjalanan yang sama…..

Sedang keindahan di kala siang akan nampak terlihat diantara bangunan kuno bersejarah di kota Semarang….Seandainya aku adalah Donald John Trump….mungkin akan kubeli seluruh kawasan kota tua di Semarang yang terletak di dekat kawasan Pasar Johar dan kujadikan sebuah Taman yang begitu mempesona dimana setiap orang dapat menikmati keindahannya…..lengkap dengan Hotel berbintang (kubayangkan hotel tersebut dibangun di bangunan yang saat ini menjadi tempat untuk membeli tiket PT. Pelni, dan Pusat Perbelanjaan yang menjual souvenir khas kota Semarang lengkap dengan wisata kulinernya yang nyaman…

Andai aku seorang milyuner….akan kukerahkan mesin-mesin pengeruk lumpur terhebat untuk mengurangi kerapnya rob menguyuri kawasan kota lama yang terletak di dekat Pasar Johar sehingga akan makin terpancar keindahannya……

Semarang….ehm….begitu banyak julukan telah diberikan untuk “adik angkat” kota Brisbande, Quensland ini (seingat aku sewaktu aku SMA, Quensland telah mengadakan MOU dan menjadikan Semarang sebagai kota “kembaran” alias “twins city” dengan mereka). Mulai dari Little Holland, atau Little Nederland lihatlah arsitek Holland yang begitu kentara terlihat di Gedung Lawang Sewu atau jajaran Pemakaman Prajurit Belanda di Jl. Jendral Sudirman dan Restoran Oen di Jl. Pemuda dan Gereja Blenduk yang merupakan hasil karya Thomas Karsten yang legendaris….atau Kota Laksamana Cheng Ho dengan keindahan Gedung Batunya….betapa kayanya Semarang akan keindahan yang seakan menantikan sentuhan.

Ya, ya….aku hanya bisa bermimpi…..bermimpi kelak kota Semarangku yang dipagari gunung Merapi, Gunung Unggaran, Gunung Telomoyo, dan Gunung Prahu suatu saat kelak akan lebih giat untuk bersolek….

Karimun Jawa:

Wisata Bahari di Utara Pulau Jawa

Pulau Cemara Besar dengan latar Pulau Karimun Jawa

Pulau Cemara Besar dengan latar Pulau Karimun Jawa

Jika anda termasuk yang menyukai wisata bahari kemungkinan besar sudah pernah mendengar nama Karimun Jawa. Kepulauan yang terletak di utara Jawa Tengah ini memang salah satu tempat favorite bagi pecinta wisata maritim, terutama yang hobi diving atau snorkling.

Berdasarkan data dari situs Departemen Kehutanan, Karimunjawa adalah kepulauan di Laut Jawa yang termasuk dalam Kabupaten Jepara. Dengan luas daratan ±1.500 hektar dan perairan ±110.000 hektar. Taman Nasional Karimunjawa merupakan gugusan 27 buah pulau yang memiliki tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah, padang lamun, algae, hutan pantai, hutan mangrove, dan terumbu karang (dephut.go.id).

Saya sendiri baru sempat berkunjung ke Karimun Jawa ini pada awal Juli 2009 yang lalu. Mengingat pula bahwa sekitar Juli hingga Agustus dianggap sebagai musim yang paling cocok jika ingin berkunjung kesana. Karena pada waktu inilah iklim serta cuaca termasuk ramah untuk wisata bahari. Selain bahwa pada musim ini pula ombak termasuk tidak terlalu tinggi untuk pelayaran ke sana.

Kali ini saya berangkat ke sana bersama rombongan dari Cibubur Diving Club. Mereka kebetulan memang rutin hampir tiap tahunnya melakukan penyelaman di Karimun Jawa.

Menempuh perjalanan darat dari Jakarta menuju Semarang hampir sekitar 12 jam dengan bus. Mengingat jalur Pantura yang tidak begitu bagus serta banyak perbaikan jalan, maka naik kereta api atau pesawat ke Semarang agaknya akan lebih nyaman meski akan lebih mahal. Kami tiba di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang sekitar pukul 8 pagi.

Setelah memperoleh tiket Kapal Motor Cepat (KMC) Kartini I maka kapal pun berlayar sekitar pukul 9 pagi menuju Kepulauan Karimun Jawa. Untuk urusan tiket ini ada baiknya jika sudah memesan terlebih dahulu jauh-jauh hari sebelum keberangkatan. Berdasarkan keterangan penjual tiket, bahkan tiket sudah habis hingga sebulan ke depan karena memang sudah banyak dipesan. Padahal untuk ukuran tiket kelas bisnis seharga Rp. 90.000 dan kelas eksekutif seharga Rp. 125.000 sudah termasuk ke dalam kategori mahal.

KMC Kartini I di Tanjung Mas, Semarang

KMC Kartini I di Tanjung Mas, Semarang

Sebenarnya ada dua rute pelayaran menuju Karimun Jawa, yaitu dari Pelabuhan Tanjung Mas Semarang atau dari Pelabuhan Kartini di Jepara. Jika dari Tanjung Mas maka pilihannya menggunakan KMC Kartini I yang hanya menempuh perjalanan selama 3 hingga 3,5 jam. Sedangkan jika dari Jepara, menggunakan Kapal Motor Muria yang membutuhkan waktu tempuh hampir 6 jam perjalanan. Rute pertama lebih banyak dipilih karena lebih singkat walaupun lebih mahal.

Sedangkan melalui jalur udara dapat ditempuh dari Bandara Ahmad Yani, Semarang menuju Bandar Udara Dewa Daru di Pulau Kemojan dengan pesawat sewa jenis CASSA 212 yang disediakan oleh PT. Wisata Laut Nusa Permai (Kura-Kura Resort). Waktu tempuh kurang lebih 30 menit. Kisaran harga sewanya sekitar US $ 1.300 per jam.

Sekitar pukul 1 siang KMC Kartini I berlabuh di Pelabuhan Karimun Jawa. Para penumpang yang turun dari kapal mayoritas adalah turis yang memang datang untuk berwisata secara rombongan. Jadi ketika mereka mendarat, rombongan mereka segera saja diangkut oleh mobil penduduk menuju cottage ataupun wisma yang sepertinya juga sudah mereka pesan sebelumnya. Barang-barang diangkut menggunakan mobil pick-up sedangkan para pemiliknya diangkut menggunakan Elf.

Di dekat dermaga memang ada semacam aula untuk persinggahan orang-orang yang baru saja tiba. Terlihat pula ada loket pusat informasi. Saat itu loket terlihat kosong sehingga sulit untuk mendapatkan informasi yang memadai bagi turis yang baru pertama kali datang ke sini.

Rombongan kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju sisi lain pulau guna menyebrang menuju Pulau Menjangan Kecil. Ternyata wisma tempat kami menginap selama di sini tidak berlokasi di pulau utama Karimun Jawa.

“Kalau musim liburan begini banyak wisma dan cottage di pulau Karimun ini yang penuh. Tapi kita dapat yang di Pulau Menjangan Kecil. Dan sebenarnya lebih eksklusif, karena cottage di sana tidak banyak disewakan untuk umum”, jelas Bertha Suranto, koordinator dari Cibubur Diving Club kepada kami. Bertha sendiri sudah beberapa kali berkunjung ke Karimun guna berbagai keperluan, terutama shooting sejumlah film televisi garapan Production House miliknya. Dia banyak kenal dengan pemilik cottage dan pejabat di sini.

Untuk yang ingin snorkling atau diving ada baiknya membawa peralatan sendiri sejak dari tempat asal. Saya sendiri agak kesulitan mencari tempat penyewaan alat-alat snorkling atau diving di Pulau Karimun ini. Lebih mudah menemukan penyewaan peralatan ini ketika saya berkunjung ke Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu, Jakarta.

Pulau Menjangan Kecil

Pulau Menjangan Kecil

Dari pulau utama menuju Pulau Menjangan Kecil menggunakan kapal nelayan sekitar 20 menit. Di sekitar pulau utama Karimun Jawa memang banyak bersebaran sejumlah pulau kecil yang tidak semuanya berpenghuni atau ditempati. Dan salah satunya adalah Pulau Menjangan Kecil ini.

Cottage sengaja didirikan di pulau kecil yang tak berpenghuni ini sehingga keasriannya tetap terjaga. Meski tidak disewakan untuk umum, cottage di Menjangan Kecil sering diinapi oleh pejabat provinsi atau kabupaten serta sanak keluarga mereka kala liburan.

Bibir pantai hanya berjarak sekitar 10 meter dari cottage sehingga saya dapat menyaksikan debur ombak dari jendela kamar. Pantai berpasir putih yang landai hampir di seluruh pesisir pulau menjadikannya cukup nyaman untuk sekedar duduk-duduk di sana menikmati birunya laut. Berjalan kaki menyisiri pantai juga tidak memakan waktu lebih dari 20 menit mengingat kecilnya pulau.

IMG_4279

terumbu karang di Pulau Menjangan Kecil

Pulau Menjangan Kecil memiliki gugusan karang yang lumayan bagus. Jadi saya bisa snorkling tidak jauh dari bibir pantai di sana. Meski terumbuh karangnya masih cukup baik, ada juga beberapa yang rusak. Dan sayangnya lagi, ada banyak bulu babi yang mengancam di pinggiran pantai. Perlu agak hati-hati jika snorkling di tempat ini terutama bagi pemula.

Jika tidak terlalu suka berenang atau snorkling disediakan pula banana boat dan glass bottom boat. Melalui glas bottom boat kita juga dapat menikmati indahnya pemandangan terumbu karang tanpa harus berbasah-basahan.

Jika bosan bermain-main di air maka bisa sekedar bersantai-santai di beberapa gazebo yang ditersedia di sekitaran cottage. Untuk anak-anak juga ada ayunan di dekatnya. Di bagian belakang pulau saya bisa menikmati suasana senja di tepi pantai.

Malam harinya kami sekedar bercengkrama dan menikmati makanan khas di pulau, yaitu seafood. Agaknya seafood akan menjadi makanan pokok kami selama beberapa hari ke depan di Kepulauan Karimun Jawa ini. Beruntung masih dapat ketemu dengan nasi.IMG_4190

Sayangnya angin malam itu berhembus kencang. Saya khawatir kalau-kalau akan ada badai malam itu. Ombak juga terlihat agak tinggi. Dan hal ini masih berlangsung hingga pagi harinya.

Rencananya siang hari itu kami akan pindah ke Wisma Apung, penginapan kami selanjutnya. Namun kapal nelayan yang akan mengangkut kami dan berbagai macam perlengkapan lainnya terancam gagal menepi di dermaga Menjangan Kecil.

Ombak dan angin kencang membuat kapal tidak berani nenambatkan tali terlalu dekat ke dermaga. Beberapa kali badan kapal hampir membentur dermaga dari kayu yang sudah terlihat rapuh. Meski agak memaksakan diri, beruntung IMG_4336kapal akhirnya dapat merapat dan berhasil membawa rombongan kami semua untuk menuju ke tujuan selanjutnya.

Kapal kemudian mengarahkan kami menuju sebuah rumah dengan keramba di pinggiran Pulau Menjangan Besar. Di sana ada penangkaran penyu sisik. Jika sempat berjalan kaki menyisiri Pulau Menjangan Besar, akan berjumpa dengan penangkaran elang jawa.

IMG_4320Di keramba si pemilik memiliki semacam kolam kecil berisikan sejumlah ikan hiu. Dan di kolam lainnya terlihat ikan baracuda. Agaknya ikan hiu yang ditangkarkan ini menjadi salah satu daya tarik utama pengunjung di sana. Atraksinya adalah berenang bersama hiu. Tidak sedikit turis yang memberanikan diri mencebur ke kolam dan berfoto bersama segerombolan ikan hiu. Termasuk juga saya. Konon, hiu di situ jinak.

Selanjutnya kapal membawa kami menuju Wisma Apung. Mirip dengan cottage yang berupa rumah yang mengambang seperti keramba di tengah laut, maka disebut dengan wisma apung. Untuk dua hari ini kami akan menginap di sini. Ada semacam idiom di antara kami bahwa jika belum menginap di Wisma Apung maka belum dianggap sah berwisata di Karimun Jawa.

Setelah check-in, menaruh barang-barang, dan makan siang, perjalanan berlanjut menuju tempat diving dan snorkling. Kapal kemudian menuju ke perairan di sekitar Pulau Cemara Kecil. Ombak dan angin masih terasa bertiup kencang.

Kapal pun gagal mendarat di Pulau Cemara Kecil. Dan perjalanan dilanjutkan mendekati Pulau Cemara Besar yang berlokasi tidak jauh dari situ. Beruntung ombak sudah agak reda siang itu.

Pulau Cemara Besar sebenarnya sebuah pulau yang kecil. Pulau ini tidak dapat didarati oleh kapal nelayan. Terdapat gugusan atol yang melindungi pulau tersebut. Justru dengan hal tersebut perairan di seputar pulau ini menghadirkan gugusan karang yang indah untuk disaksikan. Kapal pun melempar sauh di sini.

Para anggota rombongan melakukan kegiatannya masing-masing. Kelompok yang ingin diving menceburkan dirinya di sisi kiri kapal. Yang sekedar snorkling seperti saya mengambil sisi kanan kapal. Sisanya hanya menikmati pemandangan sekeliling dari atas kapal.

Pulau Cemara Kecil

Pulau Cemara Kecil

Pemandangan di bawah laut di sini memang mengagumkan. Terumbu karang dan ikan-ikan yang biasanya hanya saya lihat di Discovery Channel dapat dilihat dengan mata sendiri di sini. Terumbu karang membentuk susunan dan makin ke permukaan ketika mendekati atol di sekeliling pantai.

Sayangnya beberapa karang terlihat rusak. Menurut penuturan sejumlah penyelam, yang justru sering merusak karang di sini adalah jangkar dari kapal yang membawa turis untuk diving atau snorkling di seputaran karang itu.

Untuk yang hobi diving, ada spot yang menarik di sekitar Pulau Kemojan, tidak jauh dari situ. Di tempat itu terdapat bangkai kapal Panama INDONO yang tenggelam pada tahun 1955, dimana pada saat ini menjadi habitat ikan karang dan cocok untuk lokasi penyelaman (wreck diving). Sayangnya kami juga tidak sempat ke sana.

Ketika hari beranjak sore, kapal berserta rombongan beranjak dari tempat itu dan berencana kembali menuju Wisma Apung. Lagipula obak sudah mulai tinggi. Dalam perjalanan ombak menggoyang-goyangkan kapal dengan agak kencang.

Sebuah insiden terjadi ketika salah seorang anggota rombongan terjatuh dari kapal. Celakanya, dia tidak mengenakan jaket pelampung. Agaknya dia tidak berpegangan dengan erat ketika ombak kencang menerjang kapal sehingga terjatuh ke air.

Beruntung salah seorang awak kapal melihat dan segera loncat ke air guna mengejar. Khawatir terbawa ombak dan semakin menjauh dari kapal. Mas Jabrik, ketua rombongan Cibubur Diving Club menyusul kemudian terjun melakukan aksi penyelamatan.

Setelah menunggu kapal memutar, menjemput dan melempar pelampung dan tali penyelamat, akhirnya mereka berhasil dibawa kembali ke atas kapal. Pengalaman Mas Jabrik sebagai tim SAR di UGM cukup membantu penyelamatan sore itu.

Mengingat ombak yang kencang akhirnya perjalanan dilanjutkan dengan penuh kehati-hatian. Semua penumpang berpegangan erat kepada apa saja yang dapat dipegang di kapal guna menghindari kejadian serupa.

Di tengah-tengah kecemasan selama perjalanan pulang menuju Wisma Apung, ombak terasa makin mereda. Kapal mulai berkurang goyangannya. Di ufuk barat senja mulai menghias langit. Semburat jingga di cakrawala menghantarkan kapal hingga merapat dengan selamat di pemberhentian terakhir kami sore itu.

di Wisma Apung

di Wisma Apung

Wisma Apung terdiri dari sejumlah kamar kayu dengan kapasitas 2 orang per kamarnya. Ada yang ber-AC dan non-AC. Kebetulan saya dapat kamar paling ujung yang memiliki view paling bagus diantara kamar yang lainnya.

Saya dapat melihat pantulan bulan purnama di atas permukaan laut yang tenang malam itu dari depan kamar. Yang kurang beruntung jika mendapat kamar di sebelah ruang genset—sumber listrik di wisma apung—maka harus mengakrabkan diri dengan suara bising sepanjang malam. Malam itu saya sulit tidur karena tempat tidur serasa sedikit bergoyang karena pengaruh ombak.

Hari berikutnya kami mencoba sedikit berwisata darat. Setelah menyebrang ke pulau utama, dilanjutkan dengan menyewa mobil untuk mengelilingi pulau. Tujuannya, Pantai Baracuda di sisi lain Pulau Karimun Jawa. Membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk tiba di sana. Melalui jalan aspal yang hanya seluas 2 meteran dengan rute naik turun perbukitan kadang terlihat pula pemandangan laut sepanjang perjalanan.

Sepanjang perjalanan darat dapat terlihat bagaimana kehidupan desa sehari-harinya. Jika masyarakat di pesisIMG_4451ir lebih banyak bekerja sebagai nelayan, masyarakat di pedalaman pulau bekerja sebagai pengrajin kayu, sebagian sebagai petani—saya sempat melihat ada beberapa petak sawah, dan sebagian bertani rumput laut.

Ipong, supir sekaligus guide kami di wisata darat menceritakan mayoritas penduduk pulau Karimun Jawa adalah orang Jawa dan orang Bugis. Orang jawa umumnya pengrajin kayu dan sejenisnya sedangkan orang Bugis kebanyakan nelayan. “Ciri lain yang membedakan adalah rumah panggung yang biasanya hanya dimiliki oleh orang Bugis, “ jelasnya.

Di pulau ini juga ada hutan mangrove. Sayangnya masih sulit untuk berkeliling di hutan mangrove tersebut. “Belum banyak dibuat pijakan kaki untuk dapat berjalan-jalan di hutan mangrove, “ tambah Ipong.

Di sini juga terdapat wisata ziarah ke makam Sunan Nyamplungan. Meniti anak tangga naik bukit di pedalaman pulau. Kami batal mampir ke sana.

petani rumput laut

petani rumput laut

Tiba di pesisir Pantai Baracuda, di sini juga ada cottage yang dapat dihuni oleh turis meski terlihat hanya terdiri dari 3 kamar. Di pantai ini kita dapat berbaur dengan penduduk asli yang banyak berprofesi sebagai nelayan. Sepanjang pantai banyak kapal yang ditambatkan seusai berlayar dan beberapa yang sedang diperbaiki. Sebagian lain sedang sibuk mengeringkan rumput laut yang baru dipanen. Anak-anak nelayan memancing hanya dengan mengandalkan tali pancing dan umpan.

Dari tepi pantai dapat terlihat laut agak kehijauan. Artinya beberapa meter selepas pantai memang laut dangkal karena di situ terdapat gugusan karang. Bahkan dapat terlihat dari atas permukaan air ketika kami berperahu menuju Pulau Cilik dari Pantai Baracuda.

Pulau Cilik berada di seberang Pantai Baracuda. Hanya perlu waktu 10 menit menuju ke sana. Ada sebuah cottage yang dapat dihuni 1 keluarga di pulau ini. Jadi nuansa “ekslusif” akan lebih terasa jika menyewa cottage di pulau ini.

Pulau Gosong Tengah

Pulau Gosong Tengah

Pantainya bersih dan pasirnya putih, ombak tidak begitu besar. Sayangnya kami tidak membawa alat snorkling kali ini. Jadi hanya bisa berenang dan bermain di sekeliling pantai. Dari sini dapat terlihat pemandangan Pulau Karimun Jawa. Sore hari kembali ke Wisma Apung.

Hari terakhir saya hanya sempat ke pasar pagi di Pulau Karimun Jawa. Tidak jauh berbeda dengan pasar tradisional lainnya, kecuali mayoritas penjualnya adalah wanita. Hanya ada seorang pedagang yang lelaki. Pasar ini juga pasar satu-satunya di pulau tersebut.

Siangnya, kami sudah harus menuju dermaga Karimun Jawa guna kembali menuju ke Pulau Jawa. Tiket KMC Kartini sudah ditangan. Sebagian wisatawan sudah menyempatkan diri membeli oleh-oleh—sayangnya tidak ada cinderamata yang merupakan ciri khas Karimun Jawa.

IMG_4575KCM Kartini mengangkat sauh sekitar pukul 12 siang. Akan memakan waktu 2,5 jam sebelum tiba di Pelabuhan Kartini di Jepara. Hampir seluruh penumpang kapal tertidur kelelahan sepanjang perjalanan.

Sebagian berencana kembali ke Karimun Jawa di lain kesempatan. Yang lainnya mengagendakan untuk berwisata bahari ke kepulauan atau pantai lainnya di nusantara. Indonesia memang memiliki potensi wisata maritim yang menarik, mengingat Indonesia adalah negara kepulauan. Dan Kepulauan Karimun Jawa adalah salah satu tempat yang sangat layak untuk dikunjungi.

IMG_4460

Kabupaten Kudus

Kabupaten Kudus
Lambang Kabupaten Kudus.png
Lambang Kabupaten Kudus
Locator kabupaten kudus.png
Peta lokasi Kabupaten Kudus
Koordinat : 6°51′0″LS,110°36′0″BT-7°16′0″LS,110°50′0″BT
Motto Nagari Carta Bhakti, SEMARAK (Sehat, Elok, Maju, Aman, Rapi, Asri & Konstitusional)
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Jawa Tengah
Ibu kota KotaKudus
Luas 425,17 km²
Penduduk
· Jumlah 813.000 (2003)
· Kepadatan 1.912 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 9
· Desa/kelurahan {{{kelurahan}}}
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Bupati Kudus H. Musthofa dan Wakil Bupati H. Budiyono
Kode area telepon 0291
APBD {{{apbd}}}
DAU {{{dau}}}
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.kuduskab.go.id/

Kabupaten Kudus, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Kudus, berada di jalur pantai utara timur Jawa Tengah, yaitu di antara (Semarang-Surabaya). berada 51 km sebelah timur Kota Semarang. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Pati di timur, Kabupaten Grobogan dan Kabupaten Demak di selatan, serta Kabupaten Jepara di barat. Kudus dikenal sebagai kota penghasil rokok kretek terbesar di Jawa Tengah. Selain itu kudus juga di kenal sebagai kota santri, kota ini juga menjadi pusat perkembangan agama islam pada abad pertengahan hal itu dapat dilihat dari terdapatnya 2 makam wali/ sunan, yaitu Sunan Kudus dan Sunan Muria.


Geografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Kudus adalah dataran rendah. Sebagian wilayah utara terdapat pegunungan (Gunung Muria), dengan puncaknya Gunung Saptorenggo (1.602 meter), Gunung Rahtawu (1.522 meter), dan Gunung Argojembangan (1.410 meter). Sungai terbesar adalah Sungai Serang yang mengalir di sebelah barat, membatasi Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Demak.

Pembagian administratif

Kabupaten Kudus terdiri atas 9 kecamatan, yang dibagi lagi atas 123 desa dan 9 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kota Kudus. Kudus merupakan kabupaten dengan wilayah terkecil dan memiliki jumlah kecamatan paling sedikit di Jawa Tengah. Kabupaten Kudus terbagi menjadi 3 wilayah pembantu bupati (Kawedanan), setiap kawedanan terdiri 3 kecamatan yaitu: (1) Kawedanan Kota (Kec. Kota, Jati dan Undaan). (2) Kawedanan Cendono (Kec. Bae, Gebog dan Kaliwungu). (3) Kawedanan Tenggeles (Kec. Mejobo, Dawe dan Jekulo).

Wacana Pemekaran Kecamatan

Wacana Pemekaran Kecamatan (yang akan datang) yang ada dalam wilayah Kabupaten Kudus, adalah:

Selain pemekaran Kecamatan, juga ada wacana pemekaran Kawedanan (Pembantu Bupati), yang semula terdiri dari 3 Kawedanan (Cendono, Kudus dan Tenggeles), dimekarkan menjadi 5 wilayah, yaitu:

Industri

Perkembangan perekonomian di kudus tidaklah lepas dari pengaruh perindustrian. Beberapa perusahaan industri besar yang ada di kudus adalah PT. Djarum, PT. Petra, PR. Sukun, PT. Nojorono. PT.Hartono Istana Electronic (d/h Polytron), PT. Pura, PT. Kudos, dan ribuan perusahaan industri kecil dan menengah.

Pariwisata

Wisata religi dan budaya:

Wisata alam:

  • Air Terjun Monthel di Colo kecamatan Dawe.
  • Puncak Songolikur (di Rahtawu kecamatan Gebog) Puncak tertinggi dari gunung Muria.
  • Puncak-gunung Muria lainnya yang sering di kunjungi, seperti Puncak Argojembangan, Argowiloso. Keduanya terdapat di kecamatan Dawe.
  • Air Tiga Rasa (Rejenu) dan makam Syeh Sadzili. Terdapat di Japan kecamatan Dawe.
  • Pesanggrahan Colo (Colo) Kecamatan Dawe
  • Bumi Perkemahan Abiyoso di Menawan kecamatan Gebog.
  • Bumi Perkemahan Kajar (Kajar kecamatan Dawe)

Lainnya:

  • Museum Kretek bukti sejarah Kudus sebagai kota penghasil rokok kretek terbesar di Indonesia (PT Djarum, PT Nojorono, PR Sukun, PR Jambu Bol, PR Pamor, PR Djanur Kuning).
  • Kinder Garten
  • Replika Menara
  • Bangunan khas Kudus dikenal dengan nama Gebyog Kudus.

Makanan dan jajanan khas Kudus

  • Sate Kerbau: sate yang terbuat dari daging kerbau. Daging disajikan tidak dalam bentuk biasanya, tetapi daging dipotong dan dicincang halus dan dilekatkan pada batang sate dengan bumbu kecap, kelapa (srundeng) dan kacang, rasanya mirip dengan dendeng.
  • Jenang Kudus: orang biasanya memanggil "dodol" tapi dengan tekstur dan rasa berbeda dengan dodol yang ada.
  • Lentog: makanan khas pagi orang kudus terdiri dari tahu semur, telur, lontong dan sayur lodeh (buah nangka muda). Dahulu, penjualnya berasal dari Desa Tanjungkarang (Tanjung), namun kini telah menyebar ke seluruh pelosok kota Kudus. Yang unik dari lentog adalah ukuran lontongnya yang sebesar betis orang dewasa.
  • Ayam Bakar Colo: ayam bakar kampung khas yg ada hanya di pegunungan Colo disajikan biasanya dengan pecel bunga turi dan daun pakis pegunungan
  • Ayam goreng Kliwon Kasmini : makanan malam orang Kudus terdiri dari tahu semur dan ayam goreng dengan bumbu khas, merupakan langganan para pejabat dan orang terkenal di kudus. juga merupakan langganan dari polisi lalulintas setelah dapat uang banyak dari hasil operasi lalu lintas.
  • Soto Kudus: soto di Kudus terkenal hanya dua macam, soto ayam dan soto kerbau. Berbeda dengan soto-soto lainnya, soto kudus cenderung berasa manis dan sedikit lebih encer, dan merupakan kesalahan yang mengaku soto kudus (banyak di kota-kota besar) tapi dengan daging sapi itu bukan khas dari Kudus. Karena di kudus ada kepercayaan daerah yang melarang penyembelihan sapi.
  • Tahu Telur: hampir sama dengan tahu telor magelang atau tahu gimbal Semarang. Pada malam hari, para pedagang tahu telor ini bisa ditemui di sepanjang jalan Sunan Kudus. Terutama di depan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kudus. Biasa disebut juga dengan Tahundog.
  • Opor Panggang: Opor ayam yang kemudian dipanggang, disajikan dengan beberapa lauk tambahan. Makanan ini juga hanya tersedia di pagi hari.
  • Lontong tahu: hidangan ini hampir sama dengan tahu telur. Perbedaannya, tidak ditambahkan telur seperti layaknya tahu gimbal dari Semarang. Tahu putih khas kudus, digoreng setengah matang atau matang tergantung pesanan pembeli. Dipotong dadu lalu diberi tambahan nasi atau lontong sesuai selera. Dipupuki dengan kecambah rebus dan seledri rajang yang mebmeri aroma segar. Jika Anda suka 'cungor' atau bibir sapi yang dibacem, Anda bisa minta penjual untuk menambah rajangan cungor. Setelah itu, bumbu kecap yang memiliki aroma bawang putih yang sedap disiramkan.

Kabupaten Pemalang

Kabupaten Pemalang
Lambang kabupaten pemalang.jpg
Lambang Kabupaten Pemalang
Locator kabupaten pemalang.png
Peta lokasi Kabupaten Pemalang
Koordinat : -
Motto Indah , Komunikatif , Hijau , Lancar , Aman , Sehat (IKHLAS)
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Jawa Tengah
Ibu kota Pemalang
Luas 996,09 km²
Penduduk
· Jumlah 1.320.000 (2003)
· Kepadatan 1.325 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 14
· Desa/kelurahan 222
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati
Kode area telepon 0284
APBD {{{apbd}}}
DAU Rp. 330.900.000.000
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: http://www.pemalangkab.go.id/ Pemalang BLOG

Kabupaten Pemalang, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Pemalang. Kabupaten ini berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Kabupaten Pekalongan di timur, Kabupaten Purbalingga di selatan, serta Kabupaten Tegal di barat.


Sejarah

Keberadaan Pemalang dapat dibuktikan berdasarkan berbagai temuan arkeologis pada masa prasejarah. Temuan itu berupa punden berundak dan pemandian di sebelah Barat Daya Kecamatan Moga. Patung Ganesha yang unik, lingga, kuburan dan batu nisan di desa Keropak. Selain itu bukti arkeologis yang menunjukkan adanya unsur-unsur kebudayaan Islam juga dapat dihubungkan seperti adanya kuburan Syeikh Maulana Maghribi di Kawedanan Comal. Kemudian adanya kuburan Rohidin, Sayyid Ngali paman dari Sunan Ampel yang juga memiliki misi untuk mengislamkan penduduk setempat.

Eksistensi Pemalang pada abad XVI dapat dihubungkan dengan catatan Rijklof Van Goens dan data di dalam buku W. Fruin Mees yang menyatakan bahwa pada tahun 1575 Pemalang merupakan salah satu dari 14 daerah merdeka di Pulau Jawa, yang dipimpin oleh seorang pangeran atau raja. Dalam perkembangan kemudian, Senopati dan Panembahan Sedo Krapyak dari Mataram menaklukan daerah-daerah tersebut, termasuk di dalamnya Pemalang. Sejak saat itu Pemalang menjadi daerah vasal Mataram yang diperintah oleh Pangeran atau Raja Vasal.

Pemalang dan Kendal pada masa sebelum abad XVII merupakan daerah yang lebih penting dibandingkan dengan Tegal, Pekalongan dan Semarang. Karena itu jalan raya yang menghubungkan daerah pantai utara dengan daerah pedalaman Jawa Tengah (Mataram) yang melintasi Pemalang dan Wiradesa dianggap sebagai jalan paling tua yang menghubungkan dua kawasan tersebut.

Populasi penduduk sebagai pemukiman di pedesaan yang telah teratur muncul pada periode abad awal Masehi hingga abad XIV dan XV, dan kemudian berkembang pesat pada abad XVI, yaitu pada masa meningkatnya perkembangan Islam di Jawa di bawah Kerajaan Demak, Cirebon dan kemudian Mataram.

Pada masa itu Pemalang telah berhasil membentuk pemerintahan tradisional pada sekitar tahun 1575. Tokoh yang asal mulanya dari Pajang bernama Pangeran Benawa. Pangeran ini asal mulanya adalah Raja Jipang yang menggantikan ayahnya yang telah mangkat yaitu Sultan Adiwijaya.

Kedudukan raja ini didahului dengan suatu perseturuan sengit antara dirinya dan Aria Pangiri.

Sayang sekali Pangeran Benawa hanya dapat memerintah selama satu tahun. Pangeran Benawa meninggal dunia dan berdasarkan kepercayaan penduduk setempat menyatakan bahwa Pangeran Benawa meninggal di Pemalang, dan dimakamkan di Desa Penggarit (sekarang Taman Makam Pahlawan Penggarit).

Pemalang menjadi kesatuan wilayah administratif yang mantap sejak R. Mangoneng, Pangonen atau Mangunoneng menjadi penguasa wilayah Pemalang yang berpusat di sekitar Dukuh Oneng, Desa Bojongbata pada sekitar tahun 1622. Pada masa ini Pemalang merupakan apanage dari Pangeran Purbaya dari Mataram. Menurut beberapa sumber R Mangoneng merupakan tokoh pimpinan daerah yang ikut mendukung kebijakan Sultan Agung. Seorang tokoh yang sangat anti VOC. Dengan demikian Mangoneng dapat dipandang sebagai seorang pemimpin, prajurit, pejuang dan pahlawan bangsa dalam melawan penjajahan Belanda pada abad XVII yaitu perjuangan melawan Belanda di bawah panji-panji Sultan Agung dari Mataram.

Pada sekitar tahun 1652, Sunan Amangkurat II mengangkat Ingabehi Subajaya menjadi Bupati Pemalang setelah Amangkurat II memantapkan tahta pemerintahan di Mataram setelah pemberontakan Trunajaya dapat dipadamkan dengan bantuan VOC pada tahun 1678.

Menurut catatan Belanda pada tahun 1820 Pemalang kemudian diperintah oleh Bupati yang bernama Mas Tumenggung Suralaya. Pada masa ini Pemalang telah berhubungan erat dengan tokoh Kanjeng Swargi atau Kanjeng Pontang. Seorang Bupati yang terlibat dalam perang Diponegoro. Kanjeng Swargi ini juga dikenal sebagai Gusti Sepuh, dan ketika perang berlangsung dia berhasil melarikan diri dari kejaran Belanda ke daerah Sigeseng atau Kendaldoyong. Makam dari Gusti Sepuh ini dapat diidentifikasikan sebagai makam kanjeng Swargi atau Reksodiningrat. Dalam masa-masa pemerintahan antara tahun 1823-1825 yaitu pada masa Bupati Reksadiningrat. Catatan Belanda menyebutkan bahwa yang gigih membantu pihak Belanda dalam perang Diponegoro di wilayah Pantai Utara Jawa hanyalah Bupati-bupati Tegal, Kendal dan Batang tanpa menyebut Bupati Pemalang.

Sementara itu pada bagian lain dari Buku P.J.F. Louw yang berjudul De Java Oorlog van 1825 -1830 dilaporkan bahwa Residen Van den Poet mengorganisasi beberapa barisan yang baik dari Tegal, Pemalang dan Brebes untuk mempertahankan diri dari pasukan Diponegoro pada bulan September 1825 sampai akhir Januari 1826. Keterlibatan Pemalang dalam membantu Belanda ini dapat dikaitkan dengan adanya keterangan Belanda yang menyatakan Adipati Reksodiningrat hanya dicatat secara resmi sebagai Bupati Pemalang sampai tahun 1825. Dan besar kemungkinan peristiwa pengerahan orang Pemalang itu terjadi setelah Adipati Reksodiningrat bergabung dengan pasukan Diponegoro yang berakibat Belanda menghentikan Bupati Reksodiningrat.

Pada tahun 1832 Bupati Pemalang yang Mbahurekso adalah Raden Tumenggung Sumo Negoro. Pada waktu itu kemakmuran melimpah ruah akibat berhasilnya pertanian di daerah Pemalang. Seperti diketahui Pemalang merupakan penghasil padi, kopi, tembakau dan kacang. Dalam laporan yang terbit pada awal abad XX disebutkan bahwa Pemalang merupakan afdeling dan Kabupaten dari karisidenan Pekalongan. Afdeling Pemalang dibagi dua yaitu Pemalang dan Randudongkal. Dan Kabupaten Pemalang terbagi dalam 5 distrik. Jadi dengan demikian Pemalang merupakan nama kabupaten, distrik dan Onder Distrik dari Karisidenan Pekalongan, Propinsi Jawa Tengah.

Pusat Kabupaten Pemalang yang pertama terdapat di Desa Oneng. Walaupun tidak ada sisa peninggalan dari Kabupaten ini namun masih ditemukan petunjuk lain. Petunjuk itu berupa sebuah dukuh yang bernama Oneng yang masih bisa ditemukan sekarang ini di Desa Bojongbata. Sedangkan Pusat Kabupaten Pemalang yang kedua dipastikan berada di Ketandan. Sisa-sisa bangunannya masih bisa dilihat sampai sekarang yaitu disekitar Klinik Ketandan (Dinas Kesehatan).

Pusat Kabupaten yang ketiga adalah kabupaten yang sekarang ini (Kabupaten Pemalang dekat Alun-alun Kota Pemalang). Kabupaten yang sekarang ini juga merupakan sisa dari bangunan yang didirikan oleh Kolonial Belanda. Yang selanjutnya mengalami beberapa kali rehab dan renovasi bangunan hingga kebentuk bangunan joglo sebagai ciri khas bangunan di Jawa Tengah.

Dengan demikian Kabupaten Pemalang telah mantap sebagai suatu kesatuan administratif pasca pemerintahan Kolonial Belanda. Secara biokratif Pemerintahan Kabupaten Pemalang juga terus dibenahi. Dari bentuk birokratif kolonial yang berbau feodalistik menuju birokrasi yang lebih sesuai dengan perkembangan dimasa sekarang.

Sebagai suatu penghomatan atas sejarah terbentuknya Kabupten Pemalang maka pemerintah daerah telah bersepakat untuk memberi atribut berupa Hari Jadi Pemalang. Hal ini selalu untuk rnemperingati sejarah lahirnya Kabupaten Pemalang juga untuk memberikan nilai-nilai yang bernuansa patriotisme dan nilai-nilai heroisme sebagai cermin dari rakyat Kabupaten Pemalang.

Penetapan hari jadi ini dapat dihubungkan pula dengan tanggal pernyataan Pangeran Diponegoro mengadakan perang terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda, yaitu tanggal 20 Juli 1823.

Namun berdasarkan diskusi para pakar yang dibentuk oleh Tim Kabupaten Pemalang Hari Jadi Pemalang adalah tanggal 24 Januari 1575. Bertepatan dengan Hari Kamis Kliwon tanggal 1 Syawal 1496 Je 982 Hijriah. Dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Kabupaten Pemalang Nomor 9 Tahun 1996 tentang Hari Jadi Kabupaten Pemalang.

Tahun 1575 diwujudkan dengan bentuk Surya Sengkolo Lunguding Sabda Wangsiting Gusti yang mempunyai arti harfiah : kearifan, ucapan/sabdo, ajaran, pesan-pesan, Tuhan, dengan mempunyai nilai 5751.

Sedangkan tahun 1496 je diwujudkan dengan Candra Sengkala Tawakal Ambuko Wahananing Manunggal yang mempunyai arti harfiah berserah diri, membuka, sarana/wadah/alat untuk, persatuan/menjadi satu dengan mempunyai nilai 6941.

Adapun Sesanti Kabupaten Pemalang adalah Pancasila Kaloka Panduning Nagari dengan arti harfiah lima dasar, termashur/terkenal, pedoman/bimbingan, negara/daerah dengan mempunyai nilai 5751

Geografi

Bagian utara Kabupaten Pemalang merupakan dataran rendah, sedang bagian selatan berupa pegunungan, dengan puncaknya Gunung Slamet (di perbatasan dengan Kabupaten Tegal dan Kabupaten Purbalingga), gunung tertinggi di Jawa Tengah. Sungai terbesar adalah Kali Comal, yang bermuara di Laut Jawa (Ujung Pemalang).

Ibukota kabupaten ini berada di ujung barat laut wilayah kabupaten, berbatasan langsung dengan Kabupaten Tegal. Pemalang berada di jalur pantura Jakarta-Semarang-Surabaya. Selain itu terdapat jalan provinsi yang menghubungkan Pemalang dengan Purbalingga. Salah satu obyek wisata terkenal di Pemalang adalah Pantai Widuri.

Kabupaten Pemalang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang terletak di pantai utara Pulau Jawa. Secara astronomis Kabupaten Pemalang terletak antara 109°17'30" - 109°40'30" BT dan 8°52'30" - 7°20'11" LS.

Dari Semarang (Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah), Kabupaten ini berjarak kira-kira 135 Km ke arah barat, atau jika ditempuh dengan kendaraan darat memakan waktu lebih kurang 3 - 4 jam. Kabupaten Pemalang memiliki luas wilayah sebesar 111.530 km², dengan batas-batas wilayah :

Dengan demikian Kabupaten Pemalang memiliki posisi yang strategis, baik dari sisi perdagangan maupun pemerintahan.

Kabupaten Pemalang memiliki topografi bervariasi. Bagian Utara Kabupaten Pemalang merupakan daerah pantai dengan ketinggian berkisar antara 1 - 5 meter di atas permukaan laut. Bagian tengah merupakan dataran rendah yang subur dengan ketinggian 6 - 15 m di atas permukaan laut dan bagian Selatan merupakan dataran tinggi dan pengunungan yang subur serta berhawa sejuk dengan ketinggian 16 - 925 m di atas permukaan laut. Wilayah Kabupaten Pemalang ini dilintasi dua buah sungai besar yaitu Sungai Waluh dan Sungai Comal yang menjadikan sebagian besar wilayahnya merupakan daerah aliran sungai yang subur.

Pembagian administratif

Kabupaten Pemalang terdiri atas 14 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dankelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Pemalang.

Di samping Pemalang, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Comal, Petarukan, Ulujami, Randudongkal dan Moga.

Kecamatan di Kabupaten Pemalang yaitu:

  1. Bodeh
  2. Ulujami
  3. Comal
  4. Ampelgading
  5. Petarukan
  6. Taman
  7. Pemalang
  8. Bantarbolang
  9. Randudongkal
  10. Warupring
  11. Moga
  12. Pulosari
  13. Watukumpul
  14. belik

Kabupaten Pemalang kebanyakan merupakan suku Jawa. Di bagian barat dan selatan, penduduknya bertutur dalam bahasa Jawa dialek Tegal, sedangkan di bagian timur seperti di Petarukan, Comal, Ulujami, Ampelgading dan Bodeh bertutur dalam bahasa Jawa dialek Pekalongan.


Industri Rumah Tangga

Rupa-rupa

Tokoh terkenal

Rumah Adat Jawa Tengah


ARSITEKTUR JAWA TENGAH

Arsitektur atau Seni Bangunan yang terdapat di daerah Provinsi Jawa Tengah dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
a. Arsitektur Tradisional, yaitu Seni Bangunan Jawa asli yang hingga kini masih tetap hidup dan berkembang pada masyarakat Jawa.
Ilmu yang mempelajari seni bangunan oleh masyarakat Jawa biasa disebut Ilmu Kalang atau disebut juga Wong Kalang. Yang merupakan bangunan pokok dalam seni bangunan Jawa ada 5 (lima) macam, ialah :
- Panggang-pe, yaitu bangunan hanya dengan atap sebelah sisi.
- Kampung, yaitu bangunan dengan atap 2 belah sisi, sebuah bubungan di tengah saja.
- Limasan, yaitu bangunan dengan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan de tengahnya.
- Joglo atau Tikelan, yaitu bangunan dengan Soko Guru dan atap 4 belah sisi, sebuah bubungan di tengahnya.
- Tajug atau Masjid, yaitu bangunan dengan Soko Guru atap 4 belah sisi, tanpa bubungan, jadi meruncing.

Masing-masing bentuk berkembang menjadi beraneka jenis dan variasi yang bukan hanya berkaitan dengan perbedaan ukurannya saja, melainkan juga dengan situasi dan kondisi daerah setempat. Dari kelima macam bangunan pokok rumah Jawa ini, apabila diadakan penggabungan antara 5 macam bangunan maka terjadi berbagai macam bentuk rumah Jawa. Sebagai contoh : gedang selirang, gedang setangkep, cere gencet, sinom joglo lambang gantung, dan lain-lain.
Menurut pandangan hidup masyarakat Jawa, bentuk-bentuk rumah itu mempunyai sifat dan penggunaan tersendiri. Misalnya bentuk Tajug, itu selalu hanya digunakan untuk bangunan yang bersifat suci, umpamanya untuk bangunan Masjid, makam, dan tempat raja bertahta, sehingga masyarakat Jawa tidak mungkin rumah tempat tinggalnya dibuat berbentuk Tajug.
Rumah yang lengkap sering memiliki bentuk-bentuk serta penggunaan yang tertentu, antara lain :
- pintu gerbang : bentuk kampung
- pendopo : bentuk joglo
- pringgitan : bentuk limasan
- dalem : bentuk joglo
- gandhok (kiri-kanan) : bentuk pacul gowang
- dapur : bentuk kampung
- dan lain-lain.
Tetapi bagi orang yang tidak mampu tidaklah mungkin akan demikian. Dengan sendirinya rumah yang berbentuk doro gepak (atap bangunan yang berbentuk mirip burung dara yang sedang terbang mengepakkan sayapnya) misalnya bagian-bagiannya dipergunakan untuk kegunaan yang tertentu, misalnya :
-- emper depan : untuk Pendopo
-- ruang tengah : untuk tempat pertemuan keluarga
-- emper kanan-kiri : untuk senthong tengah dan senthong kiri kanan
-- emper yang lain : untuk gudang dan dapur.

Di beberapa daerah pantai terdapat pula rumah-rumah yang berkolong. Hal tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga bila ada banjir.
Dalam Seni Bangunan Jawa karena telah begitu maju, maka semua bagian kerangka rumah telah diberi nama-nama tertentu, seperti : ander, dudur, brunjung, usuk peniyung, usuk ri-gereh, reng, blandar, pengeret, saka guru, saka penanggap, umpak, dan sebagainya.
Bahan bangunan rumah Jawa ialah terutama dari kayu jati. Arsitektur tradisional Jawa terbukti sangat populer tidak hanya di Jawa sendiri tetapi sampai menjangkau manca negara. Kedutaan Besar Indonesia di Singapura dan Malaysia juga Bandar Udara Soekarno-Hatta mempunyai arsitektur tradisional Jawa.
Arsitektur tradisional Jawa harus dilihat sebagai totalitas pernyataan hidup yang bertolak dari tata krama meletakkan diri, norma dan tata nilai manusia Jawa dengan segala kondisi alam lingkungannya. Arsitektur ini pada galibnya menampilkan karya “swadaya dalam kebersamaan” yang secara arif memanfaatkan setiap potensi dan sumber daya setempat serta menciptakan keselarasan yang harmonis antara “jagad cilik” (mikrokosmos) dan “jagad gedhe” (makrokosmos).
Pada dasarnya arsitektur tradisonal Jawa – sebagaimana halnya Bali dan daerah lain – adalah arsitektur halaman yang dikelilingi oleh pagar. Yang disebut rumah yang utuh seringkali bukanlah satu bangunan dengan dinding yang pejal melainkan halaman yang berisi sekelompok unit bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Ruang dalam dan luar saling mengimbas tanpa pembatas yang tegar. Struktur bangunannya merupakan struktur rangka dengan konstruksi kayu, bagaikan payung yang terpancang terbuka. Dinding ruangan sekedar merupakan tirai pembatas, bukan dinding pemikul. Yang sangat menarik pula untuk diungkap adalah struktur tersebut diperlihatkan secara jelas, wajar dan jujur tanpa ada usaha menutup-nutupinya. Demikian pula bahan-bahan bangunannya, semua dibiarkan menunjukan watak aslinya. Di samping itu arsitektur Jawa memiliki ketahanan yang cukup handal terhadap gempa.
Atap bangunannya selalu menggunakan tritisan yang lebar, yang sangat melindungi ruang beranda atau emperan di bawahnya. Tata ruang dan struktur yang demikian sungguh cocok untuk daerah beriklim tropis yang sering mengalami gempa dan sesuai untuk peri kehidupan manusia yang memiliki kepribadian senang berada di udara terbuka. Halaman yang lega dengan perkerasan pasir atau kerikil sangat bermanfaat untuk penyerapan air hujan. Sedangkan pepohonan yang ditanam seringkali memiliki sasraguna (multi fungsi), yaitu sebagai peneduh, penyaring debu, peredam angin dan suara, juga sebagai sumber pangan bagi manusia dan binatang bahkan sering pula dimanfaatkan untuk obat tradisional.
Sumber utama untuk mengenal seni bangunan Jawa untuk untuk daerah Jawa Tengah adalah Kraton Surakarta dan Kraton Mangkunegaran. Juga peninggalan-peninggalan bangunan makam kuno serta masjid-masjid kuno seperti Masjid Demak, Masjid Kudus dengan menaranya yang bergaya khusus, Makam Demak, Makam Kadilangu, Makam Mengadeg, dll.
Di samping seni bangunan Jawa asli yang berupa bangunan rumah tempat tinggal, terdapat juga seni bangunan Jawa peninggalan dari jaman Sanjayawangça dan Syailendrawangça, semasa berkuasa di daerah Jawa Tengah. Bangunan semasa itu biasanya menggunakan bahan bangunan batu sungai, ada juga yang menggunakan batu merah, bahan kayu yang peninggalannya tidak kita jumpai lagi, tetapi kemungkinan dahulunya ada.
Fungsi bangunan-bangunan itu bermacam-macam : sebagai tempat pemujaan, tugu peringatan, tempat pemakaman, tempat bersemedi, dan sebagainya. Corak bangunan-bangunan agama itu ada yang agama Budha Mahayana, misalnya : Borobudur. Yang bercorak Trimurti, misalnya : Dieng. Sedangkan yang bercorak campuran dengan kepercayaan daerah setempat, misalnya : Candi Sukuh dan Çeta.

Bentuk Rumah Panggang-pe :
Banyak kita jumpai sebagai tempat jualan minuman, nasi dan lain-lainnya yang terdapat di tepi jalan. Apabila diperkembangkan dapat berfungsi sebagai tempat ronda, tempat mobil / garasi, pabrik, dan sebagainya.
Bentuk Rumah Kampung :
Umumnya sebagai tempat tinggal, baik di kota maupun di desa dan di gunung-gunung. Perkembangan dari bentuk ini juga dipergunakan sebagai tempat tinggal.
Bentuk Rumah Limasan :
Terutama terlihat pada atapnya yang memiliki 4 (empat) buah bidang sisi, memakai dudur. Kebanyakan untuk tempat tinggal. Perkembangannya dengan penambahan emper atau serambi, serta beberapa ruangan akan tercipta bentuk-bentuk sinom, kutuk ngambang, lambang gantung, trajumas, dan lain-lain. Hanya saja yang berbentuk trajumas tidak biasa digunakan sebagai tempat tinggal.
Bentuk Rumah Tajug :
Ciri utamanya pada atap berbentuk runcing, soko guru dengan blandar-blandar tumpang sari, berdenah bujur sangkar, lantainya selalu di atas tanpa bertingkat. Dipergunakan sebagai tempat suci, semisal : Masjid, tempat raja bertahta, makam. Tidak ada yang untuk tempat tinggal.
Bentuk Rumah Joglo :
Memiliki ciri; atap terdiri dari 4 (empat) buah sisi soko guru dengan pemidangannya (alengnya) dan berblandar tumpang sari. Bangunan ini umumnya dipergunakan sebagai pendopo dan juga untuk tempat tinggal (dalem).


B. Arsitektur Modern ; yaitu seni bangunan yang ada di Provinsi Jawa Tengah yang mempunyai corak campuran antara seni bangunan asli dengan pengaruh seni bangunan luar, atau campuran antara luar dengan luar atau asli luar. Paduan unsur seni bangunan yang satu dengan yang lain ini terutama terlihat pada konstruksi bangunannya, atau pada bentuk atapnya. Dari bagian yang mudah terlihat ini, misalnya pada atap, orang dapat mengenalnya dengan mudah bahwa bangunan itu unsur seninya perpaduan. Jenis bangunan yang termasuk arsitektur modern ini dapat berfungsi sebagai tempat tinggal, rumah ibadah, gedung sekolah, gedung pertemuan, rumah makan, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, Masjid Kudus, yang selain berbentuk bangunan Jawa asli yaitu Tajug, juga memiliki menara yang berbentuk bale kul-kul seni budaya Bali, mempunyai pintu gerbang bergaya Persia. Kantor-kantor Pemerintahan peninggalan masa pemerintahan kolonial Belanda banyak yang memiliki pilar-pilar dengan Kapiteel Yonis, Doris atauKornilis.
Monumen-monumen yang termasuk Arsitektur Modern adalah ; Monumen Palagan Ambarawa, Monumen Diponegoro di Magelang, Monumen Tugu Muda di Semarang, dan lain-lainnya.

Kabupaten Boyolal

Kabupaten Boyolali
Lambang Kabupaten Boyolali
Lambang Kabupaten Boyolali
Locator kabupaten boyolali.gif
Peta lokasi Kabupaten Boyolali
Koordinat : -
Motto -
Semboyan '
Slogan pariwisata '
Julukan
Demonim '
Provinsi Jawa Tengah
Ibu kota Boyolali
Luas 1.015,10 km²
Penduduk
· Jumlah 935.768 (2004)
· Kepadatan 922 jiwa/km²
Pembagian administratif
· Kecamatan 19
· Desa/kelurahan -
Dasar hukum UU No. 13/1950
Tanggal -
Hari jadi {{{hari jadi}}}
Bupati Drs. Sri Moeljanto
Kode area telepon 0276
APBD {{{apbd}}}
DAU Rp. 313.078.000.000
Suku bangsa {{{suku bangsa}}}
Bahasa {{{bahasa}}}
Agama {{{agama}}}
Flora resmi {{{flora}}}
Fauna resmi {{{fauna}}}
Zona waktu {{{zona waktu}}}
Bandar udara {{{bandar udara}}}

Situs web resmi: www.boyolalikab.go.id

Kabupaten Boyolali (Bahasa Jawa: Bayalali, arti harafiah: "lupa dari marabahaya"), adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Boyolali, terletak sekitar 25 km sebelah barat Kota Surakarta. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Grobogan di utara; Kabupaten Sragen, Kabupaten Karanganyar, dan Kota Surakarta (Solo) di timur; Kabupaten Klaten di selatan; serta Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang di barat.

Bagian timur kabupaten ini termasuk kawasan Solo Raya. Di wilayah kabupaten Boyolali terdapat Bandara Internasional Adi Sumarmo yang melayani untuk kawasan Solo dan sekitarya, serta asrama haji Donohudan.


Geografi

Kabupaten Boyolali membentang barat-timur sepanjang 49 km, dan utara-selatan 54 km. Sebagian besar wilayahnya adalah dataran rendah dan dataran bergelombang dengan perbukitan yang tidak begitu terjal. Pemanfaatan

Bagian barat merupakan daerah pegunungan, dengan puncaknya Gunung Merapi (2.911 m) dan Gunung Merbabu (3.141 m), keduanya adalah gunung berapi aktif. Sedangkan di bagian utara (perbatasan dengan Kabupaten Grobogan merupakan daerah perbukitan, bagian dari rangkaian Pegunungan Kendeng.

Di bagian utara (perbatasan dengan Kabupaten Sragen terdapat Waduk Kedungombo.

Pembagian administratif

Kabupaten Boyolali terdiri atas 19 kecamatan, yang dibagi lagi atas 262 desa dan 5 kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Boyolali.

Di samping Boyolali, kota-kota kecamatan lainnya yang cukup signifikan adalah Ampel, Banyudono, Simo, Karanggede, Musuk dan Selo. Kawasan Ngemplak yang berbatasan langsung dengan Kota Surakarta, kini telah dikembangkan menjadi pusat pertumbuhan Solo Raya ke arah barat.

Transportasi

Wilayah Kabupaten Boyolali dilewati jalan negara yang menghubungkan Semarang-Solo. Selain itu juga terdapat jalur alternatif dari Semarang menuju Sragen melalui Karanggede.Rata-rata seluruh pelosok kecamatan di Boyolali sudah mudah dijangkau sarana transportasi. Bandara Internasional Adi Sumarmo pun secara geografis masuk wilayah kabupaten Boyolali.

Pariwisata

Boyolali terletak di kaki sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang memiliki pemandangan sangat indah dan mempesona, sayuran hijau yang luas dan berbukit-bukit serta aktivitas Gunung Merapi yang terlihat dengan jelas aliran lahar dan asapnya. Jalur Solo-Boyolali-Cepogo-Selo-Borobudur (SSB) yang melintasi kedua gunung tersebut dipromosikan menjadi jalur wisata menarik yang menjadi pilihan bagi wisatawan baik domestik maupun negara asing dari kota budaya Surakarta menuju Candi Borobudur untuk melintasi Kabupaten Boyolali. Kecamatan Selo dikenal sebagai daerah peristirahatan sementara bagi para pendaki Gunung Merapi dan Merbabu yang mempunyai tempat penjualan cenderamata yang representatif. Kecapatan Cepogo merupakan sentra penghasil sayuran hijau yang segar dan murah serta pusat kerajinan tembaga di Boyolali.

Selain panorama Gunung Merapi dan Merbabu, kabupaten Boyolali juga memiliki tempat wisata berupa mata air alami yang mengalir secara terus menerus dan sangat jernih yang dikelola dengan baik menjadi tempat wisata air, kolam renang, kolam pancing dan restoran seperti di Tlatar (sekitar 7 km arah utara kota Boyolali) dan Pengging di Kecamatan Banyudono (sekitar 10 km arah timur kota Boyolali). Kedua tempat wisata air ini memiliki keunikan sendiri-sendiri. Kalau di Tlatar memiliki keunggulan dimana lokasinya masih sangat luas dan memiliki beberapa pilihan kolam renang berikut tempat mancing dan restoran terapung, maka di Penging memiliki keunggulan dimana dulunya merupakan tempat mandi keluarga Kasunanan Surakarta . Sehingga disekitar Pengging ini masih dapat ditemukan bangunan-bangunan bersejarah yang unik milik Kasunanan Surakarta. Juga terdapat makam salah seorang pujangga Keraton Surakarta yaitu Raden Ngabehi Yosodipuro.

Flying Fox Irung Petruk =

sekitar 5 km dari arah cepogo ke arah selo terdapat arena fly

Waduk Cengklik

Obyek wisata ini terletak di Desa Ngargorejo dan Sobokerto, Kecamatan Ngemplak ± 20 km, kearah timur laut Kota Boyolali, Bila dari Bandara Adi Sumarmo ± 1,5 KM {di sebelah barat bandara tepatnya}. waduk dengan luas genangan 300 ha ini dibangun pada zaman Belanda, tujuannya untuk mengairi lahan sawah seluas 1.578 ha, bisa untuk latihan sky air.

Letaknya sangat strategis, berdekatan dengan Bandara Adi Sumarmo, Asrama Haji Donohudan, Monumen POPDA, dan Lapangan Golf. Fasilitas: Wisata Air (Water Resort), Pemancingan (Fishing Area), Rumah Makan Lesehan (Floating Restaurant).

Pesanggrahan Pracimoharjo

Merupakan petilasan Sri Susuhunan Paku Buwono X sebagai obyek wisata minat khusus/ ziarah, Terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo.

Air Terjun Kedung Kayang

Obyek wisata yang perlu dikembangkan. Terletak di Desa Klakah berjarak 5 km ke arah Barat dari Kecamatan Selo. Merupakan panorama pemandangan alam yang berupa air terjun yang terletak diantara 2 kabupaten, yaitu Boyolali dan Magelang.Potensial untuk aktivitas camping, hiking, climbing. Fasilitas: Homestay, Pemandangan Alam.

Makam Ki Ageng Pantaran

Di Pantaran Desa Candisari Kecamatan Ampel. Jarak tempuh dari kota 17 km. Makam ini cukup potensial sebagai tempat ziarah, karena terdapat Petilasan Ki Kebo Kanigoro, petilasan Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi, Petilasan Ki Ageng Pantaran. Pengunjung dapat menikmati pemandangan alam di kaki gunung Merbabu dan air terjun Si Pendok. Setiap tanggal 20 suro diadakan event upacara tradisional Buka Luwur. Fasilitas: Bangsal tempat tirakat, Bukit Perkemahan Indraprasta.

Wana Wisata Kedung Ombo

Obyek wisata ini terletak di Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, sekitar ± 50 km ke arah utara Kota Boyolali menjanjikan rekreasi hutan dan air yang menyegarkan serta pemancingan. Fasilitas: Bumi Perkemahan, Hutan Wisata, Tempat Pemancingan, Rumah Makan Apung, Wisata Air.

Masih banyak tempat wisata lain misal Bumi Perkemahan Indrapastha, Kali Sewan, dan lain-lain. Di Boyolali juga bisa menikmati wisata kuliner misal sambal lethok/tumpang dan makananan khas lainnya. bila kamu melewati daerah boyolali cobalah singgah di salah satu tempat tersebut untuk menghilangkan rasa lelah anda saat perjalanan ataupun hanya untuk mencoba coba saja.

Gunung Tugel dan Makam Ki Ageng Singoprono

Obyek wisata ini terletak di Desa Nglembu, Kecamatan Sambi, sekitar ± 15 km ke arah timur laut Kota Boyolali. Lokasi ini lebih dekat ditempuh dari kota kecamatan Simo yang berjarak hanya sekitar 3 km dari pusat kota. Tempat ini menjanjikan rekreasi perbukitan dan ratusan tangga menuju makam Ki Singoprono di puncak gunung tugel. Obyek Wisata Khasanah yang di kunjungi setiap malam Jumat dan malam Selasa Kliwon, Lokasi Makam Ki Ageng Singoprono yang menarik dengan letaknya yang sangat indah. Fasilitas: Bumi Perkemahan, Hutan Wisata, Tempat Menyepi dan Tempat Berdoa di puncak gunung tugel.

Perekonomian

Boyolali dikenal sebagai kota susu, karena merupakan salah satu sentra terbesar penghasil susu sapi segar di Jawa Tengah. Peternakan sapi perah umumnya berada di daerah selatan dan dataran tinggi yang berudara dingin, karena sapi perah yang dikembangkan saat ini berasal dari wilayah sub-stropis Australia dan Selandia Baru. Selain itu didaerah Kecamatan Ampel terdapat sentra industri Abon dan Dendeng.

Perindustrian

Banyak terdapat perindustrian di wilayah Boyolali yang dapat menampung tenaga kerja yang potensial. Mayoritas industri yang ada di wilayah Boyolali adalah bergerak dalam bidang textil, antara lain PT. Sariwarna, PT. Safaritex, PT. Bupatex dll.

Produksi Tanaman Perkebunan

  1. Kelapa = 4.396,20 hektare = 10.766.450 butir
  2. Cengkeh = 892,13 hektare = 4.317,30 kwintal
  3. Teh = 28,62 hektare = 161,60 kwintal
  4. Tembakau = 2.884,20 hektare = 1.819.299 kilogram
  5. Kencur = 573,85 hektare = 4.605.290 kilogram
  6. Jahe = 300,50 hektare = 1.805.100 kilogram
  7. Kopi Robusta = 224,67 hektare = 75.703 kilogram
  8. Kopi Arabika = 186,61 hektare = 13,24 ton
  9. Jambu Mete = 129,53 hektare = 50.781 kilogram

Potensi Produk Potensial

  • Tembakau Rajangan, di Kecamatan Mojosongo, Banyudono, Musuk, Selo, Cepogo, Ampel, Teras dan Sawit. Produksi 4.178.543 ton/tahun, meliputi areal 5.369,35 hektar. Manfaat: bahan baku industri rokok. Pemasaran: ke wilayah Jateng dan Jatim.
  • Tembakau Asapan, di Kecamatan Mojosongo, Banyudono, Teras, Ampel, dan Sawit. Produksi 1.760,79 ton/tahun dengan areal seluas 2.635 hektare. Manfaat: Bahan baku industri rokok. Pemasaran di wilayah Jateng dan Jatim.

Peluang Investasi

  • Tembakau: Industri Pabrik Rokok di Kecamatan Selo, Ampel, Musuk, Cepogo, Mojosongo, Teras, Sawit dan Banyudono Potensi: Produksi 4.178,543 ton/tahun pada areal 5.369,35 hektare. Kegunaan: Bahan baku industri rokok.
  • Kopi Arabika: Budidaya tanaman kopi arabika di Kecamatan Selo, Cepogo, Ampel, dan Musuk. Potensi: Produksi 172,790 ton/tahun pada areal 234 hektar. Kegunaan: memenuhi kebutuhan pasar ekspor dan bahan baku industri kopi bubuk/instant.
  • Jahe: Budidaya tanaman jahe dan Industri pengolahan jamu tradisional di Kecamatan Ampel, Musuk, Cepogo, Boyolali, dan Selo. Potensi: Produksi 4.363,170 ton/tahun pada areal 611,85 hektare. Kegunaan: Bahan baku industri jamu tradisional.
  • Kencur: Budidaya tanaman kencur dan industri pengolahan jamu tradisional di Kecamatan Simo, Andong, Klego, Sambi, dan Nogosari. Potensi: Produksi 5.670,290 ton/tahun pada areal 490,95 hektare. Kegunaan: Bahan baku industri jamu tradisional.
  • Teh: Industri pengolahan teh wangi di Kecamatan Ampel, Selo, dan Cepogo. Potensi: Produksi 191,63 kg/tahun pada areal 27,88 hektare. Kegunaan: Bahan baku pengolahan teh wangi.
  • Jarak: Budidaya tanaman jarak dan Industri pengolahan minyak jarak di Kecamatan Klego, Andong, Kemusu, Juwangi, Wonosegoro dan Nogosari. Potensi areal: 10.409 hektar. Kegunaan: bahan baku industri minyak jarak.

Putra-Putri Terkenal Kelahiran Boyolali

Boyolali telah banyak melahirkan putra-putri yang berhasil dan banyak dikenal di seantero wilayah Indonesia, bahkan dunia. Beberapa putra terkenal kelahiran Boyolali adalah sebagai berikut:

  1. Prof. Dr. Soeharso. Ia adalah dokter terkenal dan pendiri YPAC. Ia adalah merupakan salah satu pahlawan nasional.
  2. Laksamana Widodo AS. Ia adalah pernah menjabat sebagai KSAL, panglima TNI dan Menkopolhukam di era pemerintahan presiden SBY.
  3. Ir. Joko Kirmanto. Ia adalah Menteri Pekerjaan Umum di era pemerintahan presiden SBY.
  4. Latiful Hayat. Ia adalah salah satu putra Boyolali yang sehat dan energik serta aktif.